Yu Tum-Rahasia Thiwul Legendaris Gunungkidul Terungkap!

 Wisata Belanja, Wisata Kuliner

Thiwul Yu TumGunungkidul terkenal dengan makanan khas berupa thiwul yang terbuat ketela. Namun siapa sangka bila tanaman berupa pohon ketela  tersebut bukan berasal dari Gunungkidul. Batang ketela berasal dari Brazil yang di bawa bangsa Portugis pada saat jaman penjajahan pada abad ke 16.

Dengan kondisi geografis di Gunungkidul yang tandus dan sangat minim air sangat cocok untuk menanam pohon ketela. Karena pada jaman penjajahan sangat minim bahan makanan masyarakat di Gunuungkidul  menjadikan ketela sebagai olahan panganan pokok. Masyarakat di Gunungkidul mengolah ketela menjadi thiwul sebagai pengganti beras.

Kini, thiwul bukan lagi makanan pokok Gunungkidul, posisinya berganti menjadi kudapan atau jajanan pasar. Salah satu penjual thiwul yang legendaris adalah Tumirah. Sudah 30 tahun sejak tahun 1985, Yu Tum (Yu berarti Mbak panggilan untuk perempuan Jawa), panggilan akrab penjual thiwul dan saat ini juga di gunakan untuk nama gerai.

Berawal dari berjualan keliling kampung, Almarhum Yu Tum saat ini yang sudah mempunyai banyak gerai yang ditangani oleh menantunya. Gerai sekaligus dapur utamanya terletak di Jalan Pramuka no.36, sebelah Balai Desa Wonosari. Meninggalkan stigma panganan jaman Jepang, thiwul semakin dilirik para pelancong yang berkunjung ke Gunungkidul. Selain di Gunungkidul Gerai Yu Tum bisa di temukan juga di kota Yogyakarta.

Thiwul Yu Tum memang istimewa. Tumbukan gapleknya halus, sehingga bila matang ditanak terasa lembut di mulut, mirip tekstur roti. Selain itu, Yu Tum juga menambahkan gula Jawa sebagai pemanis. Sementara parutan kelapa yang menjadi pendamping setianya, semakin menambah rasa gurih

Paduan yang pas! Thiwul bisa dinikmati langsung sebagai kudapan, bisa juga dijadikan nasi yang disantap bersama sambal bawang dan sayur lombok ijo. Lauk gathot dan belalang goreng khas Gunungkidul pun bisa jadi alternatif pilihan. Semuanya tersedia di tempat Yu Tum. Ada juga thiwul rasa keju dan coklat yang harus dipesan terlebih dahulu untuk bisa mencicipnya.

Cara membuat thiwul adalah dengan menjemur umbi ketela pohon sampai menjadi gaplek (singkong kering), kemudian menumbuknya hingga hancur, dan terakhir dikukus. Sampai sekarang, Yu Tum masih memakai tungku tradisional berbahan bakar kayu yang disebut luweng, kuali dari logam, dan kukusan kerucut dari bambu. Ciri pawon tradisional Jawa yang kini telah jarang ditemui. Hal ini tetap dipertahankan untuk selalu menjaga citarasa hasil olahannya. Yang sampai saat ini tetap memiliki cita rasa yang sama.

Sementara kukusan berbentuk kerucut difungsikan untuk mencetak thiwul yang berbentuk gunungan. Bila ingin membawa pulang sebagai buah tangan, Yu Tum telah menyiapkan besek bambu untuk membungkus gunungan thiwul.

Selain thiwul, Yu Tum juga mengolah ketela menjadi beberapa makanan lain. Sebut saja gathot, keripik, dan yang terbaru adalah gethuk goreng. Tersedia pula thiwul
instan yang bisa dikukus sendiri di rumah. Kemampuan penduduk Gunungkidul mengolah hasil buminya memang luar bisa. Meskipun cenderung tandus dan sulit ditanami, terbukti tetap menghasilkan makan lezat nan bergizi.

Berkat kegigihan Almarhum Ibu Tumirah gerai Yu Tum yang tetap konsisten menjaga kualitas produknya saat ini bisa menjadi pusat oleh-oleh yang sangat terkenal di Gunungkidul. Makanan khas Gunungkidul yang terbuat dari ketela lebih berfariasi lagi. Dengan adanya makanan khas di Gunungkidul bisa menjadi destinasi wisata kuliner yang sangat sayang di lewatkan saat berkunjung di Gunungkidul.

Foto

proses pembuatan thiwul Yu Tum

Dapur Yu Tum

 

Author: 

Seorang anak petani desa yang tersesat di dunia maya, kemudian jatuh cinta pada ngeblog dan internet marketing sejak tahun 2008. Tidak ada sesuatu yang istimewa, harapan saya melalui Wisataku.net ini bisa berbagi informasi tentang tempat tempat wisata menarik di Jogja dan sekitarnya.